There is love and simplicity behind the complexity of his works. There is a romantic, soft and sensitive person behind those edgy smock detailed dresses. Ladies, say hello to Barli Asmara.

In the middle of traffic hours in Jakarta, I managed to visit one of Indonesia’s rising fashion designers, Barli Asmara. It was not that hard to make an interview appointment with him in his minimalist yet chic showcase. With smile and laugh during supervising work towards his assistants and workers, this Bandung born fashion designer greeted me in his own made white shirt with crossed shawl embellishment in the front and black pantaloon complimented with Gucci loafers, Bvlgari watch, and ivory leather woven bracelet from Bottega Veneta. After I took some pictures of him and his works for visual related materials, then we both sat together face to face on his work table made from glass and had this quite long chit chat accompanied by teh botol, rujak buah, nasi goreng and kwetiaw goreng tek tek.
How did it all begin? Your career as a fashion designer.
Semuanya berawal di sekitar tahun 2002, tapi mulai baru dikenal orang disekitar tahun 2006. Pada awalnya saya belum berani memproklamirkan diri saya sebagai fashion designer, mungkin lebih tepat sebagai seorang tailor karena saya lebih mengikuti kemauan pesanan pelanggan saja, masih belum memiliki ciri khas dan gaya tersendiri, masih meraba-raba. Baru di tahun 2006, saat saya disebut sebagai salah satu dari tujuh upcoming designers, baru saya berani untuk menyatakan diri saya sebagai seorang fashion designer.

Why did you choose fashion for your choice of career?
Karena dari kecil saya sudah tertarik dan dekat dengan fashion. Sewaktu kecil saya sudah dibiasakan di dalam keluarga untuk membuat baju sendiri oleh ibu saya. Jadi mungkin bisa dibilang it’s in the blood and fashion has been a big part of my life since my early years.
What made you fall for fashion for the first time? What is the trigger, any specific designers or collections, or maybe any specific things?
Karena tradisi keluarga saya yang suka membuat baju sendiri itu, dari jaman saya masih kecil saya selalu membayangkan mempunyai baju, tas, dan sepatu yang banyaaaak sekali di dalam lemari saya..*tertawa*.
Selain itu juga karena mengalirnya darah seni yang cukup kental di keluarga saya. Nenek saya itu seorang perias pengantin Sunda di masanya, ibu saya juga seorang makeup artist dan hairstylist, sedangkan tante saya juga seorang fashion designer, Corrie Kastubi, dan juga seorang jewelry designer, Poppy H. Isman. Jadi ya seperti yang saya bilang, it’s in the blood.
Is there any difficulties in becoming a designer without studying basic fashion?
Kesulitan itu pasti ada, bahkan yang memang memiliki dasar pendidikan fashion pun juga memiliki kesulitan masing-masing. Biasanya memang sedikit sulit pada awalnya meyakinkan klien untuk mempercayai kita, tetapi itu kembali lagi bagaimana cara kita membuktikan kualitas kerja kita kepada klien. Pada akhirnya kalau klien puas, dia akan kembali ke kita dan bisa mempromosikan kita ke kerabatnya.
Masalah pendidikan fashion, tidak terlalu menjadi penghalang besar karena saya sudah suka menggambar baju-baju dari waktu masih kecil dan seperti yang saya bilang sebelumnya keluarga saya suka membuat baju sendiri, jadi itu yang saya jadikan basic fashion saya. My fashion basic is my experience and my passion for fashion.
Who is your favorite designer? Local and international.
Kalau untuk lokal, saya sendiri… *tertawa* kalau bukan kita yang duluan menghargai karya kita sendiri, siapa lagi? Bener gak?
Kalau internasional ada banyak sih, Karl Lagerfeld, Alexander McQueen, Marc Jacobs, Viktor Horsting & Rolf Snoeren, Domenico Dolce & Stefano Gabbana, Raf Simons, Christopher Kane.

How do you see yourself? Your perception of yourself to be exact.
Saya itu orang yang perfeksionis, bawel terhadap suatu hal untuk menghasilkan yang terbaik. Saya juga tidak mau merendahkan orang lain dan memberikan tekanan, karena saya tidak mau membuat suasana kerja karyawan saya menjadi down dan penuh tekanan, takutnya mereka malah jadi tidak semangat dan suasana kerja jadi tidak kondusif dan tidak nyaman.
Kalau sebagai pribadi saya orangnya itu sangat menyukai kerapihan, kebersihan, minimalis, wewangian, dan nilai estetika yang tinggi.
Looking at your designs and works, they’re quite complex and detailed, how about your own personality and your own daily style, is it also quite complex and detailed like your designs?
Saya tidak terlalu ribet untuk penampilan sehari-hari, saya lebih apa adanya yang penting rapih, mungkin bisa dibilang lebih ke preppy casual. Kalau untuk design dan karya saya, memang lebih rumit dan unik karena untuk memberikan ciri khas dan gaya tersendiri di dalam desain saya yang lebih bergaya modern dan edgy.

How do you feel about Indonesian fashion nowadays?
Melihat dari perkembangannya sudah cukup bagus sekali. Kita bisa melihat ada beberapa desainer angkatan senior kita yang sudah bisa mewakili Indonesia di mancanegara. Selain itu, kalau kita lihat, dalam penggunaan teknik di dalam design pun, desainer Indonesia juga tidak kalah dengan desainer dari luar.
Other than batik, what Indonesian heritage would you love to explore?
Kalau bicara mengenai budaya Indonesia kayaknya gak akan bisa habis dieksplorasi. Untuk sekarang saya sih lagi tertarik sama aksesoris-aksesoris tradisi Indonesia yang menggunakan batu-batuan. Kalau untuk fabric saya juga tertarik dengan tenun ikat.
What do you think about the emergence of fashion blogs these days?
Sangat baik sekali, karena akan semakin praktis dan semakin mudah mengakses dan mengupdate berita tentang fashion. Dengan begitu, otomatis semakin banyak orang yang sadar akan fashion selain itu fashion blogs juga bisa mendukung sisi publisitas dan sisi marketing di dunia fashion, jadi keuntungan juga untuk para pelaku industri fashion.
Who is your muse these days? And why do you consider he/she as your muse?
Saya tidak memiliki muse dalam bentuk satu orang. Mungkin terdengar klise, tapi setiap orang memiliki kecantikan yang berbeda-beda, dan tugas saya sebagai desainer adalah membuat busana yang dapat menonjolkan nilai estetika dari pribadi tersebut.

Where do you get your inspiration?
Cinta. *tersenyum* Inspirasi saya itu semuanya berasal dari cinta. Tanpa cinta saya tidak bisa terinspirasi dan semangat. Cinta buat saya adalah inspirasi yang memberikan banyak ide dan penyemangat kerja dan hidup saya. Selain itu saya juga biasa mendapatkan banyak inspirasi saat sedang traveling. Melalui traveling, saya bisa melihat betapa luas dan besarnya kebudayaan kita ini dan juga melihat hasil karya pengrajin lokal yang sangat inspiratif.
Jadi kalau lagi gak jatuh cinta gak bisa?
Gak bisa! Harus ada cinta, biar semangat! *tertawa*
Do your studies, interior design and business communication, give major influence in your design?
Mungkin bisa dikatakan begitu. Saya sempat mengambil interior design sebelum saya mengambil communication business. Di tahun 2007 saya sempat menggunakan beberapa elemen desain interior seperti kaca ke dalam design saya, tetapi di tahun 2008 saya menemukan satu buku tentang fashion arsitektur yang membuat saya sangat terinspirasi. Saya bisa mengeksplorasi dunia interior dan arsitektur dan mengaplikasikannya ke dalam fashion. Seperti bentuk bangunan, bentuk lampu, sampai ke tekstur dan motif dari sofa, karpet, tirai, dan sebagainya.
Kalau dari segi komunikasi bisnis, ilmu saya sangat berguna untuk diterapkan dalam segi marketing dan mempresentasikan karya dan juga diri saya sebagai pribadi, artist, dan juga sebagai seorang profesional.

What makes your works different than other designers?
Setiap fashion designer pasti memiliki ciri khas yang berbeda satu sama lain di dalam setiap karyanya dan masing-masing designer memiliki kelebihan dan keunikan yang dapat membuat mereka terlihat berbeda, bisa dari bentuk dan model yang dibuat, ataupun penggunaan detail-detail dalam bajunya.
Di tahun 2008 kemarin, saya ingin memperlihatkan kekuatan design saya melalui detail teknik smock, dan sampai saat ini saya masih merasa belum puas mengeksplor si smock ini, jadi saya berharap dapat menciptakan sesuatu yang unik dan lain daripada yang lain dengan mengunakan si teknik smock ini, yang yah, semoga bisa menjadi salah satu ciri khas keunikan karya saya. Selain itu saya juga ingin memberikan sesuatu yang unik melalui cutting dan siluet yang sedikit berbeda agar tidak membosankan dan tetap terlihat modern.
Do you consider yourself as an artist or simply a businessman who works in an art world?
Menurut saya, saya harus bisa menempatkan diri saya menjadi keduanya. Saat saya mendesain suatu baju, disitu saya adalah seniman, tetapi saat saya harus berjualan, menghadapi klien, ya disitu saya menjadi seorang businessman yang menjual karya dan jasa saya.

Then how do you balance your idealism and commercialism?
Menjaga idealisme itu penting untuk memiliki gaya kita sendiri sebagai desainer, tapi saya juga gak menutup mata kalau kita bisa berkarya pun kalau punya uang, jadi menjadi komersil itu juga penting. Mungkin saya lebih membedakan idealisme dan sisi komersil saya melalui line saya. Untuk adibusana, disitu saya mengeluarkan idealisme saya, dan untuk line ready to wear menjadi tempat untuk karya saya menjadi komersil, wearable tetapi masih saya berikan sentuhan sedikit idealisme saya ke dalamnya melalui beberapa detail, seperti saat ini saya mengaplikasikan teknik smock ke dalam RTW saya.
Financial secure first or getting publicity first? Which one is more important for you?
Dua-duanya saling mendukung. Di saat publikasi kita meningkat, maka pemasukan kita pun akan naik, dan seiringnya sisi finansial kita kuat dan bisa menghasilkan karya dengan kualitas nomor satu maka dengan otomatis publisitas kita pun juga akan semakin luas.
Things in your current wishlist?
Tas Bottega Veneta dan Postman bag Hermes.
Last but not least, what’s your goal and your dream in this industry?
Goal saya, saya tidak ingin berhenti dan stuck sampai tahap ini saja, saya masih ingin terus maju dan berkembang sebagai seorang designer. Saya juga ingin memiliki tim yang lebih banyak dan solid untuk design sehingga bisa mengembangkan sisi line retail saya dan kalau tercapai saya juga ingin bisnis saya ini go international dan bisa mengembangkan ke line kidswear.
Kalau mimpi saya, sepertinya gak terlalu berbeda dengan desainer muda lainnya, ingin bisa menggelar show tunggal, meskipun selama ini sudah berhasil mengikuti beberapa fashion show besar yang exposurenya jg tidak kalah dari show tunggal, tetapi berhasil menggelar show tunggal sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri dan merupakan mimpi dari setiap desainer.
Selain itu saya juga ingin berhasil menciptakan setidaknya satu couture yang tidak bisa ditiru oleh orang lain sehingga busana tersebut bisa menjadi identitas karya saya yang bisa dinikmati banyak orang dan juga diabadikan melalui sebuah pameran atau dapat dimasukan ke dalam museum sebagai salah satu karya anak negeri.
Greatttttt article!!!!!!!!! <3
kok gue liat doi mirip nicholas saputra ya?
uh…ganteng:)
great article, james!
i still can’t believe that he’s a famous fashion designer now. no wonder ni mukanya familiar banget dari kemaren2.. namanya juga sih. ternyata oh ternyata.. dulu gue ngeliat dia masih pake celana pendek biru. hihi..
ehm…cakep ya…..
Thank you for the great interview James (and Barli too). Pasti yang baca ini mengharap semua boss nya seperti Barli yang nggak mau marah2 ke karyawan karena tidak mau menciptakan suasana yang nggak enak.
And of course, always love his collection too. Sukses terus ya Barli….
omg
sosok yg sangat menawan
wah seru wawancaranya… lagi dong wawancara perancang2 dlm negeri yg lain… biar tau what’s the story behind these artworks…
nice article n pic..hehe…be creative yaps!!
Thanks for the great article James! Really enjoyed reading it. And more power to Barli Asmara
Sukses Barli!
kebetulan banget rumah nenek ku persis depannya studionya Barli… jadi tiap kali main ke rumah nenek , pasti ngintip2 manekin2 yg dipajang dari luar … (ketauan dehh…hehehe)…emang model bajunya cantik2 bangeettt… i wish i can wear them all… tp berhubung my body 5 kali ukuran si manekin, jadilah cuma bisa memandangi-nya…hiksss… ato at least curi2 ide-nya dikit..ga pa2 ya Barr…??? x-P
dmn si studionya barli??ad yg tau nggak?
Hebat!!!Rancangannya oke banget.Mengglitik aku untuk gambar disain baju lagi seperti waktu kuliah dulu,yang pernah menjual sketsa di butik tante temanku di Malang yang selembarnya laku Rp 25.000,-(he..he..)
Dia sangat menggemari ditail smookh,Ok banget!!Gak malu kalo di pamerin ke luar negeri.
his design? SIMPLE and GORGEOUS!!! looking forward for next fitting:-)