Fitri in Editorial — June 18th, 2008


Sudah nonton “The Devil Wears Prada”? Kisah seorang Andrea Andy Sachs yang bermimpi menjadi jurnalis handal, yang kemudian mengantarkannya menjadi asisten seorang Miranda Priestly, Editor in Chief di Majalah Runway.
Disitu diceritakan bagaimana awalnya Andy yang idealis, tidak mau terbawa arus dengan menjadi seorang fashion follower. Ia meyakinkan diri bahwa kemampuan seseorang tidak dilihat dari stylenya tapi dari kemampuannya, dan Andy sangat yakin dengan kemampuannya.
Dan apa hasilnya? Ia hanya bertugas menyiapkan kopi untuk Miranda setiap pagi, asisten kedua yang hanya menjadi suruhan asisten pertama, menjadi bulan-bulanan orang sekantor yang mengejek penampilan jeleknya yang sangat tidak up to date (tentu saja sangat ganjil melihat seorang yang berpenampilan buruk bisa bekerja di bidang fashion). Andy pun susah untuk menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Begitu Andy dimakeover, diapun langsung terlihat cantik dan keren, orang di kantornya tidak ada yang memandangnya dengan sebelah mata lagi. Teman kerja yang tadinya cuek mulai menyapa Andy, kerjaan dia ditambah tanggung jawabnya dan urusan pekerjaan pun sepertinya lebih mudah dikerjakan karena orang lain akan senang hati membantunya. Dan yang paling penting, jalan karir jadi terbentang luas didepan, terbukti dari Miranda yang mengajak Andy untuk menghadiri Fashion Show di Paris. Andy yang semula tidak mendapat perhatian, hingga akhirnya, penampilan barunya yang mengiringi kepintarannya menuntunnya menemukan jalan kariernya.
Jadi salah satu arti yang bisa ditangkap dari film ini adalah seseorang itu, apapun pekerjaannya (apalagi menjadi seorang asisten editor majalah fashion), harus berpenampilan menarik. Tidak harus selalu mengikuti trend mode yang kadang kala tidak sesuai dengan diri kita, tapi minimal memperhatikan penampilan agar selalu terlihat cantik, segar dan percaya diri. Dengan berpenampilan bagus artinya kita menghargai diri sendiri and take things seriously, jadi kita lebih terlihat dan dipercaya dibanding mereka yang tampil awut-awutan. Tapi tentu saja, ini juga harus didukung dengan performance kerja yang nggak kalah oke nya dengan penampilan kita.
So remember, be fashionable at work…:)
Tambahan dikit dari Hanzky
Any more ideas?
Tags: Career, Devil Wears Prada





Add yours 19 comments for this entry.
lindy wirasati
And off course do make up ladies:P
June 18th, 2008 at 9:38 am
Amelia
wah masalahnya aky ga bisa pake heels.. sakit…
jadi tiap pake baju kerja tetep pake flat shoes…
June 18th, 2008 at 10:29 am
Hanzky
Lindy: How could I missed that one..:D
Amelia: Iya susah sih kalo memang nggak biasa yah, daripada nanti jadi nggak nyaman. Flat banyak juga kok yang modelnya dressy, apalagi yang model pointy gitu, trus patent leather (yang shiny) lumayan ngebantu supaya keliatan lebih polished. Tapi kalo flatnya yang model ballerina shoes gitu sih memang terlalu casual ya…:)
June 18th, 2008 at 10:39 am
lindy wirasati
Suhu Hanzky
Masa siy situ lupa make up nya?
Secara khatam jadi bencong, gak kayak gue yg masih amatiran…
tambahan nya: pakai tas yg warnanya gak jauh2 amat dari tone warna baju
June 18th, 2008 at 10:55 am
ariyati
setujuu..semakin cantik dan rapi penampilan kita saat kerja semakin kita dihargai n dipercaya..hehe..pengalaman gw banget!!thanks
June 18th, 2008 at 11:19 am
cheyqua
“…leave noisy bangles at home”
I CAN’T LEAVE EM AT HOME!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
it’s a part of my signature style hoho.. bagusss tempat kerja saya bebas hohahoahoha..
June 18th, 2008 at 5:22 pm
Shibuya_gal
Do make up ok tapi yg wajar2 aja. ntar make up penganten dipake buat ngantor lagi..ha..ha..ha
June 18th, 2008 at 6:40 pm
Ragil
setuju!!! sama semuanya..
jangan lupa parfum, tapi jangan yang menyengat.. ada orang2 yg alergi lohh..
June 18th, 2008 at 9:58 pm
Celia
setuju!
tapi menurut gue, dress professionally bukan berarti harus pake power suit. tergantung nature of work-nya juga. kalo kerja di bidang creative kan biasanya pada nyantai2. menurut gue yg penting rapi dan appropriate di lingkungan kerjanya. kalo overdressed sendiri kan gak lucu jg
June 18th, 2008 at 11:03 pm
Darling
iya bener kata celia, tergantung work environmentnya juga & dress code policy. kalo kerja di lab ngapain juga pake heels & full make up.
June 19th, 2008 at 6:59 am
kathy
yang penting pake baju yang confort buat diri kita, karena kalo pakai baju terlalu modis tp kita gak comfort yang ada jadi gak Pe De. gitchu loh
June 19th, 2008 at 9:40 am
Deszell
Ahhh I love this article! You know why han :p
June 19th, 2008 at 11:05 am
ngelzz
tadi ada tmen gue mo wawancara, tp dia ga pake hiheels.. tp gue tanya kenapa ga pake, katanya daripada dia jatoh ? mending dia teplek2an aja..
ahh.. tp gue tetep aja gatel, knapa dia ga pake heels aja coba. huehee..
June 19th, 2008 at 7:01 pm
bea
gw kerja di pabrik. otomatis baju menyesuaikan dengan job desc gw sang insinyur pabrik yang kudu bergaul sama operators dan kerjaannya manjat2. susyahlah klo mo cantik2 pake sepatu berheels, hehe….
June 19th, 2008 at 9:42 pm
NGELENONG NYOK!!! : ML
[...] bisa tebar pesona, biar bisa buka peluang baru, dan pengalaman baru Gue inget pas baca postingan di sini, sempet gak setuju banget sih awalnya. Masa’ kita musti berubah gaya hanya karena mau dapat [...]
June 20th, 2008 at 7:41 am
Hanzky
Setuju, memang biar gimana juga harus disesuaikan lah sama pekerjaannya..kalo yang dijelasin di artikel ini lebih ke kerjaan kantoran ya. Kalo di media/creative fields lainnya pasti lebih nyantai dress code nya, mungkin lebih nyeleneh malah lebih artistik kesannya..:D
lindy: gue lagi postpone dulu jadi bencongnya..hihi
amal: i know i know…:)
June 20th, 2008 at 12:11 pm
manjakartacosmo
Mungkin lebih Indonesiana dengan tambahan motif batik.
August 17th, 2008 at 5:58 am
sleepybeauty
nah kalo aku termasuk yang mana dong, kerja di bank tapi bagian renovasi gedung
walhasil selalu ninggal hiheels di kantor buat meeting doang
August 17th, 2008 at 7:52 am
Dress for Success « JAVAvera
[...] http://fashionesedaily.com/blog/2008/06/18/dress-for-success/ [...]
October 20th, 2008 at 2:46 pm